Selasa, 22 Mei 2012

Kebohongan Terakhir .. Pendekatan Sosiologi Sastra


Tugas ini saya buat berdasarkan perintah dosen tercinta..
bagi yg mau coppy, silahkan :)
hahaha :D






Nama   : Erina Melita
NIM    : 2222100536
Kelas   : IV A / DIKSATRASIA
Kajian Prosa Fiksi

MENGKAJI CERPEN KEBOHONGAN TERAKHIR MELALUI PENDEKATAN SOSIOLOGI SASTRA
KARYA RAHINI RIDWAN

Sinopsis

Cerpen yang berjudul “Kebohongan Terakhir” adalah salah satu cerpen Kompas pilihan pada tahun 1970-1980 dan diterbitkan kembali dalam sebuah buku kumpulan cerpen yang berjudul Dua Kelamin bagi Midin pada tahun 2003. Cerpen ini menceritakan tentang aku (tokoh utama) yang sangat menyukai kebohongan. Seringkali ia berbohong, bahkan setiap hari, dan akhirnya menjadi kebutuhan kesahariannya. Masyarakat di lingkungan tempatnya tinggal mencibirnya sebagai pembohong. Dia tidak pernah merasa malu dengan kebohongan yang dibuat, menurut dia kebohongan adalah sebuah prestasi, karena dengan begitu ia mempunya predikat, status dan kontak sosial sebagai pembohong. Suatu malam yang menjadi puncak kebohongan yang dilakukan tokoh Aku, yaitu saat dia mendatangi setiap rumah orang sekampung dan berkata pada mereka bahwa pak lurah Nurdin selaku lurah dikampungnya telah meninggal. Mendengar pemberitahuan yang seperti itu seluruh warga percaya. Setelah mengetahui kebohongan yang dilakukan tokoh aku, seluruh warga menghakiminya di pendopo dan selesai kejadian itu tidak ada lagi warga yang percaya pada setiap perkataannya. Ia tak pernah menduga bahwa kematian telah menjemput ibunya. Namun ia tak bisa berbuat banyak, orang-orang kampung tak mungkin mempercayainya lagi, sekalipun perkataanya kali ini memang benar adanya. Dan ia pun menyadari bahwa maut tidak pernah berbohong.

Analisis

Dari masalah yang diangkat pengarang dalam cerpen ini, dapat dilihat bahwa fenomena sosial yang terjadi hanya berasal dari satu konflik yaitu masalah kebohongan. Dimana konflik tersebut sengaja di buat oleh tokoh utama yang mengakibatkan kampung menjadi tidak tenang. Tidak pernah ada penyesalan dari perbuatan yang dilakukannya, tapi dia malah senang jika masalah yang dibuatnya berhasil. Dari situ dapat diketahui realita ”kehidupan” dan ”lingkungan” yang terjadi dalam masyarakat.
Ridwan sebagai pengarang cerpen “Kebohongan yang Terakhir” menghubungkan konflik dalam cerpen dengan masyrakat pada masa itu, sehingga masyarakat ikut terlibat didalamnya. Di samping itu, pengarang juga menceritakan kehidupan yang dialami tokoh utama secara detail. Namun, kehidupan tentang masyarakat tidak begitu diceritakan dalam cerpen ini, hanya terlihat secara implisit/garis besarnya saja.
Lingkungan yang digambarkan pengarang dalam cerpen terlihat alami, seperti tempat tinggal yang masih menggunakan gubuk-gubuk sederhana. Dengan begitu pembaca dapat ikut merasakan suasana yang terjadi. Kebudayaan yang ada dalam masyarakat juga dimanfaatkan pengarang dalam cerpen ini. Hal ini tampak pada kalimat “Entah berapa ratus orang dengan muka tegang dan marah telah berjejal memenuhi pendopo”. Dari kalimat itu dapat diketahui bahwa ketika terjadi suatu masalah di kampung, seluruh warga pergi ke pendopo untuk menyelesaikannya bersama. Tradisi seperti itu mencerminkan realita sosial yang terjadi dalam cerpen “Kebohongan yang Terakhir”.
Setelah membaca cerpen ini pembaca dapat menarik pemahaman bahwa cerita ini bukanlah semata-mata kenyataan yang diceritakan, namun hanya rekaan dari pengarangnya. Di mana tujuan pengarang yaitu agar pembaca dapat mengambil manfaat dari peristiwa yang terjadi dalam cerpen. Di samping itu pengarang juga memberikan informasi, bahwa kebohongan yang dilakukan tokoh utama adalah kebohongan yang terakhir, yang mana kebohongan adalah perilaku yang biasa dilakukan tokoh utama sedangkan yang terakhir adalah untuk yang terakhir kalinya karena musibah besar telah menimpanya sehingga membuatnya sangat menyesal.
Melalui cerpen ini pula penulis ingin menyampaikan amanat bahwa setiap kebohongan yang terlontar dari mulut kita pasti akan ada dampaknya terhadap diri sendiri. Hal ini tampak pada kutipan berikut.
“Tak bisa dipercaya,” kata seseorang.
“Aku sudah kapok dibuatnya, “ ujar yang lain.
“Kayu api neraka,” yang lain menimpali.
Kampung menjadi ribut. Tak pernah hari lewat begitu saja tanpa orang-orang ramai mempergunjingkankku.
Tetapi disini tokoh aku tidak merasa malu atas gunjingan tersebut,  melainkan ia bangga  dan senang apabila seluruh warga kampung menggunjingnya. Hal ini tampak pada kutipan:
Tapi, aku tak merasa malu – tak sedikitpun – merasa malu oleh kenyataan itu. Malah aku merasa senang dibuatnya. Kupikir, daripada tak disebut sebagai pembohong. Jelas dengan itu aku punya predikat, punya status, dan punya kontak sosial. Dan lagi, bukankah kebohongan yang paling besar adalah juga ‘prestasi’ yang bisa mendapat embel-embel Nasional dan Internasional?
Dalam kutipan di atas tampak jelas sekali tokoh aku tidak jera dalam melakukan kebohongan.  Tetapi pada suatu malam, disinilah puncak kebohongannya, yang membuat orang-orang dikampungnya benar-benar tidak mempercayainya lagi. Dapat dilihat dari kutipan dibawah ini.
Di sinilah puncak kebohonganku yang paling besar, yang akhirnya membuat semua orang tak lagi percaya kepadaku. Kudatangi setiap pintu rumah orang sekampung, kuketuk keras-keras dan tergesa-gesa. Kukatakan pada mereka:
“Pak Lurah Nurdin meninggal!” kataku.
Melihat mimik mukaku yang tegang, serius, dan tergesa-gesa, mereka jadi percaya. Sebab, memang tak masuk akal kalau sampai kematian pun menjadi objek kebohongan.
Dalam kutipan di atas terlihat jelas bahwa semua orang di kampungnya mempercayai kebohongan yang ia buat. Dan ia merasa sangat puas karena kebohongannya kali ini berhasil membuat semua orang percaya. Tetapi itu tak berlangsung lama. Sesaat kemudian terdengar suara ketukan pintu yang keras, ketika ia membuka pintu serentak tangannya ditangkap erat oleh hansip Mustofa pagawai Pak Lurah. “Mari ikut ke pendopo!” bentak hansip Mustofa . Semua warga marah kepadanya, dan melemparinya dengan tempelengan yang bertubi-tubi. Ia pun merasa letih, loyo, sakit, menjerit, dan tak tahu apa-apa lagi. Yang ia tahu setelah itu hanyalah ia yang duduk tersandar seorang diri di sudut tembok pendopo. Setelah itu ia langsung pulang kerumah dengan melangkah sempoyongan. Lalu ia mendapati bahwa ibunya terjatuh, dan telungkup di bawah dipan bambu.
Kuusap wajahnya. Dingin. Ah, aku hampir menjerit. Ia telah meningggal. Ibu kesayanganku telah meninggal.
Tak tahu apa yang harus kubuat. Akankah kuketuk lagi setiap pintu rumah mereka dan kukatakan ibuku telah meninggal? Akankah mereka percaya bahwa kali ini – walau hanya untuk kali ini saja – aku berkata tentang hal sebenarnya?
Kutipan di atas memberikan gambaran sekaligus memberikan suatu pemahaman kepada pembaca bahwa kejujuran sangatlah berharga dan satu hal yang terpenting bahwa maut tidak pernah berbohong.
Selain itu, dalam cerpen ”Kebohongan yang Terakhir”, pengarang juga menyampaikan suatu pesan tentang kematian yaitu maut tidak pernah berbohong. Dalam cerpen ini pengarang juga memberi pesan secara implisit bahwa berbohong juga ada batasnya, sehingga dapat disimpulkan berbohong tentang kematian orang lain akan sangat fatal dampaknya.


Landasan Teori

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989:855), sosiologi sastra merupakan pengetahuan tentang sifat dan perkembangan masyarakat dari atau mengenai sastra karya para kritikus dan sejarawan yang terutama mengungkapkan pengarang yang dipengaruhi oleh status lapisan masyarakat tempat ia berasal, ideologi politik dan sosialnya, kondisi ekonomi serta khalayak yang ditujunya.
Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil terakhir dari perkembangan ilmu pengetahuan. Sosiologi lahir pada saat-saat terakhir perkembangan ilmu pengetahuan, oleh karena itu sosiologi didasarkan pada kemajuan-kemajuan yang telah dicapai ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Selanjutnya Camte berkata bahwa sosiologi dibentuk berdasarkan pengamatan dan tidak pada spekulasi-spekulasi perihal keadaan masyarakat dan hasil-hasil observasi tersebut harus disusun secara sistematis dan motodologis (Suekanto, 1982: 4 ).
Sastra dapat dipandang sebagai  suatu gejala sosial. Sastra yang ditulis pada suatu kurun waktu tertentu langsung berkaitan dengan norma-norma dan adat istiadat zaman itu. Pengarang mengubah karyanya selaku seorang warga masyarakat pula (Luxenburg, Bal, dan Willem G. W. terjemahan Dick Hartoko. 1084: 23). Lebih lanjut dikatakan bahwa hubungan antara sastra dan masyarakat dapat diteliti dengan cara:
  1. Faktor – faktor di luar teks, gejala kontek sastra, teks itu tidak ditinjau. Penelitian ini menfokuskan pada kedudukan pengarang dalam masyarakat, pembaca, penerbitan dan seterusnya. Faktor-faktor konteks ini dipelajari oleh sosiologi sastra empiris yang tidak dipelajari, yang tidak menggunakan pendekatan ilmu sastra.
  2. Hal-hal yang bersangkutan dengan sastra diberi aturan dengan jelas, tetapi diteliti dengan metode-metode dari ilmu sosiologi. Tentu saja ilmu sastra dapat mempergunakan hasil sosiologi sastra, khususnya bila ingin meniti persepsi para pembaca.
  3. Hubungan antara  (aspek-aspek ) teks sastra dan susunan masyarakat sejauh mana sistem masyarakat serta jaringan sosial dan karyanya, melainkan juga menilai pandangan pengarang.
Pendekatan sosiologi sastra jelas merupakan hubungan antara satra dan masyarakat,  literature is an exspreesion of society, artinya sastra adalah ungkapan perasaan masyarakat. Maksudnya masyarakat mau tidak mau harus mencerminkan dan mengespresikan hidup (  Wellek and Werren, 1990: 110 ).
Hubungan yang nyata antara sastra dan masyarakat oleh Wellek dan Werren dapat diteliti melalui:
1.   Sosiologi Pengarang
Menyangkut masalah pengarang sebagai penghasil Karya satra. Mempermasalahkan status sosial, ideologi sosial pengarang, dan ketertiban pengarang di luar karya sastra.
 2.  Sosiologi Karya Sastra
Menyangkut eksistensi karya itu sendiri, yang memuat isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri, dan yang berkaitan masalah-masalah sosial.
3.  Sosiologi Pembaca
Mempermasalahkan pembaca dan pengaruh sosial karya tersebut, yakni sejauh mana dampak sosial sastra bagi masyarakat pembacanya (Wellek dan Werren, 1990: 111).
Beberapa pengertian dan pendapat di atas menyimpulkan bahwa pendekatan sosiologi sastra adalah pendekatan terhadap karya sastra dengan tidak meninggalkan segi-segi masyarakat, termasuk latar belakang kehidupan pengarang dan pembaca karya sastra.
Karya sastra kita kenal sebagai karya imajinasi yang lahir bukan atas kekososngan jiwa namun juga atas realitas yang terjadi di sekeliling penarang. Hal ini tentu tidak lepas dari unsure yang membangun karya sastra tersebut yang meliputi unur intrinsik (unsur yang membangun karya sastra dari dalam dan unsur ekstrinsik (unsur yang membangun karya sastra dari luar). Salah satu contoh kajian sktrinsik karya sastra adalah konflik sosial yang hal tersebut tercakup dalam kajian sosiologi sastra.
Sosiologi sastra merupakan kajian ilmiah dan objektif mengenai manusia dalam masyarakat, mengenai lembaga dan proses sosial. Sosiologi mengkaji struktur sosial dan proses sosial termasuk didalamnya perubahan-perubahan sosial yang mempelajari lembaga sosial. agama, ekonomi, politik, dan sebagainya secara bersamaan dan membentuk struktur sosial guna memperoleh gambaran tentang cara­-cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, mekanisme kemasyarakatan dan kebudayaan. Sastra sebagaimana sosiologi berurusan dengan manusia; karena keberadaannya dalam masyarakat untuk dinikmati dan dimanfaatkan oleh masyarakat itu sendiri. Sastra sebagai lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya karena bahasa merupakan wujud dari ungkapan sosial yang menampilkan gambaran kehidupan.
            Jika dikaitkan antara teori sosiologi sastra dengan cerpen Kebohongan Terakhir adalah tokoh aku dalam cerpen ini selalu berusaha mencari-cari perhatian kepada masyarakat sekitar agar selalu dianggap ada. Oleh karena itu tokoh aku berbohong pada semua warga. Apa yang warga rasakan ketika si tokoh aku berhasil membohongi warga adalah kebanggaan terbesar. Disinilah pengarang ingin memberikan informasi bahwa suatu kebohongan yang kita keluarkan akan menyebabkan orang lain atau siapapun itu tidak akan ada yang percaya kepada kita lagi.
        Apapun yang kita perbuat, baik atau buruk kita dimata orang lain, nantinya kita yang akan mendapatkan balasannya sesuai dengan perbuatan kita itu. Kalau kata guru Bahasa Indonesia saya dulu, “Karma itu tidak ada, yang ada hanyalah sebab dan akibat”. Itulah, kalau kita sering berbohong kepada orang lain, tidak menutup kemungkinan, ketika kita berkata yang sebenarnya orang lain tidak mempercayai perkataan kita itu.

1 komentar:

Jika ingin 'copas' silahkan tulis alamat email anda. Terimakasih